Ada Beton Hidup : Inovasi Mahasiswa ITB Featured

  13 April 2015
Rate this item
(0 votes)

FOTO Boks Rhesa Avila Zai 300x156

Indonesiaamanah.com – Ini yang dilakukan Rhesa Avila Zainal, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri ini telah merampungkan eksperimennya tentang semen hidup dan karya inovasi itu menjadi salah satu karya paling menonjol dalam ITB Innovators Move 2015 yang diikuti 120 judul proposal, namun hanya dipilih sembilan sebagai pemenang dan berhak dipertemukan langsung dengan pelaku usaha. Tujuannya, hilirisasi atau mewujudkan inovasi itu menjadi barang siap jual.

''Seleksinya sangat ketat. Dari 120 proposal diciutkan lagi menjadi 25 sebelum akhirnya tinggal sembilan yang dinyatakan sebagai pemenang,'' ujar Rhesa ketika ditemui redaksi jawapos di kampusnya kemarin (6/4).

Dalam kompetisi antarmahasiswa ITB itu, Rhesa dibantu teman sejawatnya, Corwin Rudly. Setelah memutar otak, mahasiswa kelahiran Jakarta, 17 Maret 1994, tersebut mendapatkan permasalahan kronis Indonesia, yakni infrastruktur jalan yang rusak, sebagai ide dasar karyanya. Apalagi dia sering menjumpai sendiri saat bepergian lewat jalan darat.

''Saat mengikuti kuliah kerja di beberapa kota di Sumatera, saya bisa merasakan sendiri bagaimana kondisi jalan-jalan di trans-Sumatera. Jalannya banyak yang rusak, Saya sampai tidak bisa tidur selama perjalanan '' ungkap Rhesa. Anak pasangan Hery Adriawan Zainal dan Meirina Zainal itu mengaku tidak bisa menikmati perjalanan jauhnya dengan menggunakan bus lintas Sumatera. Selain berlubang, banyak jalan yang bergelombang.

Dia lalu mengumpulkan sejumlah referensi dari surat kabar maupun media lain untuk mempertajam pokok pembahasan temanya. Misalnya, informasi tentang anggaran untuk perbaikan jalan raya sepanjang jalur pantura (pantai utara) yang cukup fantastis, Rp 1,7 triliun per tahun. Data lainnya adalah perihal anggaran perbaikan jalan yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta yang mencapai Rp 250 miliar per tahun.

''Artinya, biaya yang diperlukan untuk perbaikan jalan begitu besar. Karena itu, saya mengajukan karya inovasi semen hidup untuk menekan biaya renovasi, bahkan menghapusnya,'' beber Rhesa.

Berbekal ilmu yang didapat di kelas kimia, Rhesa lantas mengaplikasikan makhluk hidup renik atau mikroorganisme ke dalam campuran semen sebagai bahan baku pembuatan beton. Mikroorganisme yang cocok untuk inovasi itu masuk dalam rumpun atau tipebacillus. Bakteri tersebut dipilih karena bisa mengeluarkan kotoran berupa zat kapur. Cocok dengan bahan baku semen yang juga zat kapur.

Sifat lain mikroorganisme yang satu ini juga unik. Jika mendapati lingkungan yang tidak cocok, ia akan menjadi spora. Dalam bahasa sederhana, mikroorganisme tipebacillusakan mati suri sendiri dan akan hidup lagi pada saatnya. Rangsangan yang paling ampuh untuk membuat mikroba tersebut hidup lagi adalah air hujan.

Jadi, ketika ada beton yang terbuat dari campuran semen dan bakteribacillusitu yang retak, masyarakat tidak perlu cemas. Dengan bantuan guyuran hujan, retakan beton tersebut akan tertutup kembali setelah bakteribacillushidup lagi dan buang hajat.

Menurut ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia itu, untuk mendapatkan hasil semen hidup yang maksimal, ada takaran ideal antara jumlah semen dan mikrobabacillus. Yakni, setiap satu meter kubik semen idealnya dicampur dengan 15 kg bakteribacillus.

''Sebenarnya komposisi bakterinya bisa dikurangi. Tapi, hasilnya memang kurang efektif. Yang bagus bila jumlah bakterinya lebih banyak karena kita tidak tahu di mana saja beton yang retak,'' jelas bungsu dua bersaudara itu.

Rhesa menegaskan, proses memperbaiki sendiri tersebut hanya berlaku di retakan-retakan dalam. Proses penimbunan kapur dari bakteri tidak akan sampai ke permukaan beton. Sebab, bakteri itu akan mati jika terpapar sinar matahari secara langsung.

Dalam penelitiannya, Rhesa sempat mengalkulasi berapa lama semen hidup memperbaiki diri sendiri. Untuk sebuah retakan berukuran 0,8 milimeter, misalnya, dibutuhkan waktu sekitar tiga pekan untuk menutup sendiri. Ketika retakan menyebar, masing-masing bisa memperbaiki sendiri karena di sekelilingnya ada sekumpulan bakteri. Sementara itu, untuk kembali ke kekuatan beton seperti semula, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Inovasi Rhesa cs memang belum sempurna dan masih di permukaan. Karyanya juga belum berwujud prototipe. Tetapi, inovasi itu sudah menarik perhatian pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Bandung. Secara khusus, tim Rhesa diundang makan malam oleh pengurus Hipmi Bandung akhir Maret lalu. Dalam pertemuan tersebut, Hipmi memberikan apresiasi atas lahirnya inovasi semen hidup. Inovasi itu berpotensi diproduksi secara masal.

Rhesa menambahkan, delapan karya inovasi lainnya juga tidak kalah keren. Di antaranya, robot yang bisa bermain angklung, pemanfaatan mikro-alga yang mampu mengonversi limbah tambak menjadi biodiesel, serta aplikasi peringatan bencana yang diberi nama Darurat. Semoga sahabat amanah juga bisa ikut melakukan inovasi-inovasi baru seperti teman kita diatas yah!

Sumber : www.jawapos.com

Leave a comment

3 comments