Waduh, Harga Cabai Naik Lagi!

BLITAR –Sempat turun, harga cabai mulai merangkak lagi. Kenaikan harga cabai disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, gagal panen. Itu terjadi lantaran tanaman cabai membusuk dan mati karena pengaruh cuaca. Berdasar pantauan di lokasi, tanaman cabai milik petani di Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, Blitar, membusuk. Padahal, cabai tersebut bakal dipanen. Akibatnya, banyak petani yang kelimpungan karena sebagian besar cabai membusuk. ’’Karena banyak yang membusuk, otomatis hasil panen cabai menurun,’’ ungkap Siti Maryam, petani cabai setempat. Menurut dia, tanaman cabai membusuk karena cuaca ekstrem. Yakni, sehari hujan, tetapi beberapa hari panas.

Padahal, cabai termasuk jenis tanaman yang sangat mudah terpengaruh oleh cuaca. Siti menyatakan, membusuknya tanaman cabai tidak hanya dialami petani cabai setempat, tetapi juga di daerah lain. ’’Rata-rata banyak tanaman cabai yang membusuk,’’ jelasnya. Nah, membusuknya tanaman cabai berdampak pada menurunnya jumlah panen cabai di tingkat petani. Menurut dia, kondisi tersebut mengakibatkan harga cabai di pasaran naik. Saat ini harga cabai rawit Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya 1 kilogram hanya Rp 10 ribu. Sementara itu, harga cabai merah keriting Rp 15 ribu. Sebelumnya Rp 11 ribu perkilogram. ’’Meski di kisaran belasan ribu, tapi kenaikan cabai lumayan besar. Yakni, naik sekitar Rp 4 ribu per kilogram,’’ bebernya. Hal serupa diungkapkan petani di Desa Tugu, Kecamatan Sendang, Tulungagung. Ratusan tanaman cabai di desa mereka diserang hama patek. Mereka terancam rugi karena hasil panennya menurun drastis.
Banyak tanaman berasa pedas itu yang mati. Lasemi, petani cabai desa setempat, menyatakan, hama patek mulai menyerang sepekan terakhir. Hama langsung menyerang buah. Itu membuat cabai busuk dan rontok.
’’Sudah seminggu ini diserang patek. Mungkin karena pengaruh curah hujan tinggi dan tingkat keasaman tanah,’’ ungkapnya Senin (16/3).
Perempuan berusia 50 tahun itu menyatakan, petani mendapat informasi dari petugas pemantau bahwa penyakit patek disebabkan cendawan Colletotrichum capsici. Jika hama patek menyerang saat pembibitan, tanaman akan layu. Apabila menyerang kepada tanaman dewasa, dampaknya adalah mati pucuk, busuk, serta kering pada batang dan daun.
Dampaknya terhadap cabai adalah membusuk dan dipastikan gagal panen. ’’Saya menanam sekitar 3.500 bibit. Hampir setengahnya dirusak hama patek. Dampaknya, tanaman yang sedang berbuah itu banyak yang mati,’’ keluhnya.
Jika dihitung dari modal, lanjut Lasemi, petani rugi. Rata-rata modal untuk menanam cabai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Saat panen, keuntungan bisa Rp 3 sampai Rp 4 juta, bergantung harga cabai di pasaran.
Panen pertama beberapa hari lalu tidak bisa mencapai 1 kuintal, tetapi hanya menghasilkan 10 kilogram hingga 30 kilogram. Padahal, umumnya, kalau tanaman sedang bagus, panen cabai bisa menghasilkan lima kali lipatnya.
’’Memang 1 kilonya untuk cabai rawit saya jual terakhir Rp 22 ribu, sedangkan cabai keriting 1 kilo Rp 8 ribu. Namun, karena hasil panennya minim, tetap saja rugi. Mungkin hampir 100 hektar yang terkena patek,’’ jelasnya.(wen/and/ful/ziz/dha/JPNN/c19/any) Sumber : jpnn.com

Harga Beras Naik Tertinggi Dalam Lima Tahun Terakhir

Jakarta - Harga beras naik sejak 2 minggu terakhir. Kenaikan ini disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari daerah penghasil padi.
Bahkan salah pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Ayong (52) mengatakan, lonjakan harga kali ini menjadi yang terbesar selama 5 tahun terakhir.

"Ini lagi naik harganya, malah bisa dibilang yang tertinggi dalam 5 tahun ini," ujar Ayong di Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (24/2/2015).

Dia mengatakan, dalam 2 minggu terakhir, harga semua jenis beras baik yang medium maupun premium mengalami kenaikan antara Rp 2.000-Rp 2.200 per kg.

"Dua hari terakhir ini saja sudah naik Rp 400 per kg. Sekarang beras biasa (medium) yang tadinya Rp 8.000 sekarang jadi Rp 10.200 per kg. Kalau yang premiumnya dari Rp 10 ribu jadi Rp 12 ribu per kg," jelas dia.

Kenaikan harga ini juga berimbas pada omzet pedagang beras yang mengalami penurunan. Bahkan penurunannya lebih dari 50 persen.

"Omzetnya juga jadi turun, karena yang beli sedikit. Pembeli pada ngeluh karena harganya naik tinggi. Omzet kami turun 2/3-nya dari normal," tandas Ayong.

Pemerintah menegaskan kenaikan harga beras di pasar bukan karena penimbunan atau permainan para mafia beras. Kondisi ini murni karena masalah teknis pendistribusian beras terutama beras miskin (raskin).

"Tidak ada hubungannya dengan penimbunan," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), saat rakor ketahanan pangan, Senin 23 Februari 2105.

Ia mengaku, harga beras yang melambung disebabkan karena kurangnya stok beras itu bukan akibat ulah mafia beras.

"Ah tidak ada itu (mafia beras). Hanya orang dagang yang biasa timbun-timbun. Nanti juga biar rugi sendiri, kami turunkan harga," kata JK. (Dny/Ahm)

(Sumber : liputan6.com)

Tokoh

indonesiaamanah.com