KISAH BUNG KARNO SAAT MEMELIHARA KAMBING DI ISTANA...PENUH FILOSOFIS... Featured

  09 September 2015
Rate this item
(0 votes)

Indonesiaamanah.com- Bung Karno Presiden pertama Indonesia dan tokoh besar dunia ini teramat banyak inspirasi untuk melihat sisi kehidupannya..berikut salah satu kisahnya saat Bung Karno memelihara sepasang kambing di istana negara yang kami kutipkan dari VIVA.co.id

Bung Karno sejak lama dikenal sebagai seorang penyanyang binatang. Sering kali, sembari jalan pagi ia tak pernah lupa memberi makan rusa-rusa.

Dikutip dalam sebuah buku berjudul 'Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku, ada cerita menarik soal sayangnya Bung Karno dengan binatang. Namun ini bukan tentang rusa, tapi kambing.

Ya, sepasang kambing dari pemberian warga Swiss. Yang jantan dinamakan Bandot dan yang betina dinamakan Si Manis.

Cerita yang dituturkan ulang oleh Guntur, putra Sukarno ini cukup menggelitik. Karena Guntur menyampaikannya dalam gaya bertutur nan apik.

Guntur bercerita, bapak adalah seorang yang sangat halus perasaannya, hal ini terbukti pada rasa sayang dan cintanya pada binatang-binatang. Boleh dikata bapak hampir tak pernah menyakiti binatang-binatang misalnya lalat; nyamuk; burung-burung; apalagi hewan-hewan yang besar-besar.

Sampai-sampai nyamuk-nyamuk yang hinggap di kelambu tempat tidurnya tidak boleh dibunuhnya. Jangankan menyakiti atau membunuhnya, mengurung mereka dalam kurungan saja bapak tidak tega.

Oleh karena itu di Istana Merdeka dan Istana Negara boleh dikata tidak akan kita jumpai burung-burung hias dalam sangkar, paling banter adalah ikan-ikan dalam aquarium yang mendapatkan pelayanan dan servis luar biasa khususnya dari Bapak. Barangkali maksud Bapak agar ikan-ikan itu 'betah' tinggal di dalam rumah barunya dan agar tidak 'kekurangan' suatu apa.

Terhadap aku dan adik-adik selalu diingatkan agar tidak menyakiti binatang-binatang dan mengurung binatang. Aku dilarangnya menembak burung ataupun berburu binatang. Kalau sampai ketahuan aku menembak binatang uh, jangan tanya... bapak akan marah setinggi langit.

Berawal dari Filsafat

Pada salah satu hari ulang tahun Bapak, aku lupa ulang tahun yang ke berapa, kepala rumah tangga Istana Cipanas, Oom Burger, seorang warga negara Swiss yang sudah lama menetap di Indonesia memberikan hadiah pada bapak dua ekor kambing.

Kambing-kambing ini bukanlah jenis ras yang istimewa tetapi kambing-kambing yang biasa dipelihara oleh petani kita di desa-desa, seekor jantan dan seekor betina kira-kira berumur 2-3 bulan sedang lucu-lucunya. Yang betina aku lupa diberi nama apa oleh bapak, kalau tidak salah "Si Manis" sedangkan yang jantan Bapak beri nama "Si Bandot".

Waktu para kambing-kambing itu masih kecil mereka tidak menjadi masalah karena mereka belum doyan makan tanaman-tanaman hias dan kembang-kembang kesayangan bapak, akan tetapi setelah mereka menjadi dewasa, timbul kesulitan-kesulitan. Oleh karenanya kemudian Bapak menginstruksikan agar kepada mereka (kambing-kambing itu) diberi pengasuh-pengasuh khusus yang tugasnya menjaga agar tidak makan/merusak tanaman-tanaman hias ataupun kembang-kembang di halaman Istana.

Pengasuh kambing-kambing ini bernama Musli. Dan pertanggungan jawab atas sukses tidaknya proyek kambing ini dibebankan langsung oleh Bapak kepada wakil kepala tukang kebon Istana Merdeka dan negara yaitu Pak Hardjo kebon (di samping Pak Hardjo kebon ada juga pak Hardjo Jendral yaitu kepala Rumah Tangga Istana).

Ternyata dalam perkembangan selanjutnya si Bandot tambah-tambah saja merajalela merusak tanaman-tanaman di taman halaman istana, sampai pada suatu saat rupanya pengasuh kambing kehabisan akal buat menjinakkan si Bandot dan si Manis sehingga menghadaplah mereka-mereka itu tadi pada Bapak untuk mengadukan soal tersebut.

"Pak, kulo bade lapur perkawis soal Bandot ipun. (Pak, saya mau lapor soal Bandot).

"Yo... ono opo?? (ada apa)

"Bandot ini susah sekali kami atur, dia sekarang sudah besar jadi Musli kewalahan mengawasinya... apalagi larinya cepat sekali dan tanduknya sudah tumbuh kekar (diucapkan dalam bahasa Jawa dan pembicaraan dilakukan pada suatu sore hari ketika aku dan Bapak sedang duduk-duduk baca koran di beranda belakang Istana Merdeka).

"Yo... banjur piye? "(ya... lalu bagaimana?).

"Kalau kami boleh usul apa Bandot dan Manis boleh kami ikat saja agar jangan berkeliaran ke sana kemari? (selama ini Bapak melarang mengikat bandot dan Manis).

"Ojo!" (jangan).

"Lha... kados pundi Pak? Menapa mboten becik dipun sate kemawon Pak? Sampu lemu-lemu. (apa tidak lebih baik disate saja Pak, sudah gemuk-gemuk).

"Gendeng... kowe" (gila kamu). Mbuh carane piye pokoke ojo nganti mangani taneman! (Terserah caranya bagaimana pokoknya jangan sampai makan tanaman).

"Sendika... Pak." (siap... pak)

Guntur pun menimpali, "Pak diikat aja kenapa sih emangnya? Daripada tanaman bapak berantakan. Malu-maluin aja kalau ada tamu"

"Aku tidak tega. Kasihan. Dulu waktu Bapak disuruh angon kambing oleh eyang Kakung Almarhum, Bapak tidak pernah mengikat kambing-kambing itu. Capek-capek ya bapak turuti ke mana kambing-kambing itu pergi... sampai-sampai kaki Bapak lecet-lecet."

"Ya kalau gitu kan bapak nyiksa diri namanya."

"Logisnya begitulah, tapi dalam jiwa bapak tertanam filsafat "Ta Tvam Ash" atau "Tat Twam Asi". Pernah kau dengar filsafat itu?"

"Belum, apa artinya itu Pak?"

"Gampangnya begini artinya: aku adalah engkau; engkau adalah aku atau aku adalah kamu; kamu adalah aku. Jadi kalau aku sakiti dirimu; diri engkau; berarti aku sakiti diriku sendiri. Kalau aku buat dirimu senang berarti aku membuat diriku sendiri menjadi senang."

"Nah, karena inilah aku tidak tega menyuruh ikat Bandot dan Manis sebab aku akan merasa diriku sendiri menderita karena terikat. Filsafat ini baik: dan bisa kau jadikan salah satu pegangan buat hidupmu. Tidak ada gunanya kau hidup tanpa landasan filsafat."

Bandot Birahi

Mengenal Asal Usul Ajaran Soekarno, Marhaen

Di lain hari. Untuk beberapa waktu si Bandot dan Manis tidak lagi menimbulkan masalah yang serius, paling-paling hanya membuat Musli pengasuhnya lari-lari pontang-panting mencegah mereka makan atau merusak tanaman di halaman.

Namun persoalan mulai timbul lagi ketika si Bandot memasuki masa dewasanya sehingga sudah mulai ingin kawin dan juga ingin mencoba ketajaman ujung tanduknya yang tumbuh kekar.

Pada saat itu si Bandot benar-benar galak bukan alang-kepalang, setiap benda ia seruduk, mobil parkir ditanduknya; pohon-pohon besar diterjangi sehingga kulit batang-batangnya terkelupas.

Dan paling lucu bila kita (ma'af) nungging di depannya dengan (ma'af) pantat kita menghadap si Bandot secepat kilat ia akan mengejar dan menyeruduk kita karena kita disangkanya si Manis. (Saat itu si Bandot memang sedang hot-hotnya fall in love dengan Manis).

Pada suatu sore hari kira-kira jam 3 sore, sambil menunggu Bapak bangun dari tidur untuk selanjutnya jalan-jalan kontrol istana, seorang pengawal pribadi iseng-iseng menggoda si Bandot yang sedang asyik makan rumput dan sekeranjang sisa-sisa kulit pisang di halaman belakang istana Merdeka.

"Kak, si Bandot jangan digodain deh, nanti dianya ngamuk..."

"Ah, masa iya mas; apa betul kalau kita nungging di depannya diseruduk?!?

"Eeeee, nggak percaya. Bener kok!!!"

"Si Bandot lagi ngebet kawin. Pokoknya saya nggak tanggung lho kalau si bandot ngamuk!"

Maka menungginglah kakak pengawal tadi di sepan si bandot dan tiba-tiba... mbeeek!! Si Bandot melompat menyeruduk!!

Melihat hal itu kakak pengawal tadi cepat-cepat bangkit dan mengambil langkah seribu lari pontang-panting sambil dari belakang dikejar oleh si Bandot. Dari halaman belakang Istana Merdeka kakak pengawal itu lari ke depan menuju pos penjagaan di sayap kanan Istana Merdeka, dari bawah tergopoh-gopoh ia naik tangga yang penuh dengan pot-pot kembang antik ke ruang penjagaan di sebelah atas dengan di belakangnya dikuntit terus oleh si bandot.

Begitu sang pengawal tadi berkelit ke kiri dan langsung bersembunyi di W.C. penjagaan, maka di belakangnya si Bandot menghujami salah satu dari 10 buah pot antik yang berderet rapi di tangga itu hingga berantakan.

Akibatnya si bandot berhenti mengejar dan berdiri termangu-mangu karena kepalanya puyeng (mungkin juga berkunang-kunang).

Dari belakang aku datang berlari-lari dengan Musli sang pengasuh si Bandot sambil masing-masing membawa segenggam kulit pisang untuk si Bandot.

"Eeeeesysy. Sabar Dot! Sabar, sing sabar nya, ieu akang Musli aya di dieu... entong ngambek; tong ngambek... engke di bare kueh nya ku akang... eisysy... mbeeeek... mbeeek. (sabar... Dot, ini ada kak Musli, nanti saya kasih kue).

Akibat soal ini terpaksalah proyek officer dan pengasuh para kambing menghadap Bapak di beranda depan kamar tidur, setelah bapak bangun tidur sore untuk melaporkan kejadian tadi, terutama soal pot kembang antik yang hancur berkeping-keping.

"Pak... kulo ada laporaan... (Pak saya mau laporan).

"Ono opo Djo? (ada apa Djo?)."

"Pot antik yang di tangga penjagaan depan pecah diseruduk si bandot Pak."

Dengan wajah merah padam Bapak melirik kepadaku dan berkata:

"Tok, kau setuju tidak kalau si Bandot kita sembelih saja buat sate??"

"Setuju sih setuju Pak. Tapi "Tat Twam Asi"nya gimana??"

(sambil menarik nafas panjang) Heeehhh... yo wis Djo... Tat Twam Asi... (ya sudah Djo... Tat Twam Asi)."

"Menopo... Pak??? (apa... pak??)."

"Wis gantine wae karo pot sing liya! (Sudah, ganti saja dengan pot yang lain)." "Hayo... rikat! (Hayo, cepat!)"

"Sendika, Pak!!! (Siap... Pak!!!)"

 

Leave a comment

Tokoh

indonesiaamanah.com